Minggu, 02 Juni 2013

Review Buku PSI


Review Buku Studi Islam Kontemporer
Nama : Nanda Octavia Putri
Nim : 123911009

Judul               : Studi Islam Kontemporer
Penulis             : M.Rikza Chamami, M SI                     
Penerbit           : Pustaka Rizki Putra (Semarang)
Cetakan           : Cetakan pertama
Tahun terbit     : Desember 2012
Tebal buku      : 228 halaman
Buku ini telah memberikan pengetahuan yang cukup luas tentang agama dan ilmu pengetahuan. Islam  menjadi menarik untuk dikaji, sebab kajian studi Islam selalu memberikan warna yang indah didalam setiap topik pembahasannya. Agama juga pada wujudnya menjadi penghambaan pada Allah dan menjadi penguat untuk hidup saling berdampingan. Pendeskripsikan warna studi Islam disini yaitu tentang Studi Peradaban Islam, Studi Filsafat, Studi Ruh Sumber Islam, dan Studi Kawasan. Penjelasan berikut ini menyajikan sepuluh bab-bab yang akan sangat menarik untuk dibaca, yaitu sebagai berikut :
Bab I   Pasang Surut Kebangkitan Kebudyaan dan Keilmuan : Potret Disintegrasi Abbasiyah
            Dinasti Abbasiyah berpusat di kota Baghdad, sementara dinasti Umayyah di Damaskus. Dinasti ini berkuasa dalam rentang waktu 750 M(132 H) - 1258 M(656 H). Akan tetapi kekuasaannya berakhir dan mengalami disintegrasi yang mengakibatkan pasang surut kebangkitan kebudayaan serta keilmuan. Setelah terjadinya disintegrasi memang sudah tercatat sebagai sejarah Islam yang fanatik. Perkembangannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga periode : Pertama, periode perkembangan dan puncak kejayaan (750-950 M). Kedua, periode disintegrasi (950-1050 M) ditandai dengan upaya pelepasan wilayah-wilayah dan meminta otonomisasi. Ketiga, periode kemunduran dan kehancuran (1050-1250 M).
Terjadinya disintegrasi ini akan berimplikasi pada kehancuran konsolidasi politik dan niat untuk melakukan ekspansi. Dan juga akan mengalami ganguan pada sektor-sektor lain seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik.
Kebangkitan kebudayaan dan keilmuan  dizaman ini terbagi menjadi tiga yaitu : Pertama, kegiatan menyusun buku-buku ilmiah yang meliputi tiga tingkat yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Kedua, mengatur ilmu-ilmu Islam yang telah mengalami perubahan dan perkembangan.
Bab II Kajian Kritis Dialektika Fenomenologi dan Islam
            Dalam filsafat fenomenologi sebagai sumber berfikir yang kritis, sebab cara pemikirannya menggunakan obyek atau benda yang deskriptif dengan didukung metode deduktif. Tujuannya menggunakan metode ini untuk melihat hakikat gejala secara intuitif, sehinggan akan terlihat batas invariable dalam situasi yang berbeda-beda.
            Fenomenologi merupakan metode dan filsafat, menurut pendirinya yaitu Edmund Husserl. Sebagai metode, fenomenologi sebagai gejala yang murni dengan kesadarannya dan berusaha untuk kembali pada kesadaran yang murni. Fenomenologi sebagai filsafat, memberi pengetahuan esensial tentang apa yang ada. Karena benda pada obyek kesadarannya langsung dalam bentuknya yang murni dan sebagai lawan dari ilusi atau susunan fikiran.
            Karakteristik kajian fenomenologi dalam agama yaitu sebagai religiusitas (keberagamaan) yang bersifat universal, tidak terbatas, dan transhistoris. Dialektika kritis fenomenologi mengalami krisis ilmu sebagai permasalahan hubungan plantonis antara teori murni dengan praktis kehidupan, dan juga sebagai titik tolak permaslahan di Barat.
            Islam dari aspek fenomenologi menggunakan tata piker logika lebioh dari kausal linier dan bertujuan membangun ilmu idiografik. Penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan, angka, atau kuantitas yang merupakan cirri dari kelompok positivisme. Sedangkan, penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistic dan pendekatannya juga diarahkan pada individu atau kelompok.
Bab III Filsafat Materialisme Karl Mark dan Friedrick Engels
            Filsafat bisa disebut sebagai ilmu yang menyelidiki dan menentukan tujuan terakhir serta makna terdalam dari relaita manusia dan juga dikatakan sebagai seni berfikir. Aliran-aliran filsafat dipelopori oleh Karl Mark dan Friedrich Engels. Kral Heinrich Marx (Karl Max) lahir di Trier 5 Mei 1818 perbatasan Jerman Barat, yang pada saat itu masuk wilayah Prussia. Ia juga mempunyai sifat yang otoriter, selain itu setiap dalam perdebatan tak mau kalah, dan dia juga acap mencibir lalu memburuk-burukkan pribadi rekannya. Sejak kecil Marx sudah terpusat untuk mempelajari sastra dan filsafat. Ia belajar sampai mendapatkan gelar doktor pada tahun 1841 dengan disertai The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus. Marx meninggal di London, 14 maret 1883. Sedangkan Friedrich Engels lahir di Barmen Jerman 1820 dan meninggal di London 1895. Ia dikenal sebagai sahabat terdekat Karl Marx, mereka berdua sering disebut dengan Bapak Pendiri Komunisme. Friedrich adalah anak seorang pemilik pabrik tenun di Barmen Jerman.
            Filsafat Materialisme muncul sebagai reaksi ketidaksepakatan terhadap positivisme dan idealisme. Mark menganggap bahwa materi adalah hal utama, sementara pikiran sebenarnya hanya refleksi. Ajaran materialis bahwa manusia itu hasil keadaan dan didikan. Terjadinya secara bersamaan perubahan keadaan dengan perubahan aktifitas manusia bisa dibayangkan dan dimengerti secara rasional hanya sebagai praktek yang merevolusionerkan.
            Tentang pandangan serta pemikiran filsafat Mark dan Engeles yaitu Pertama, Materialisme Dialektis yang berprinsip bahwa perubahan dalam hal kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas. Kedua, Materialisme Historis pikiran dasarnya bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan atau didetermiansi oleh perkembangan saran-saran produksi yang meteriil. Namun arah sejarah tidak tergantung dari kehendak manusia. Adapun landasan kritik sekuler yaitu manusialah yang menciptakan agam, bukan agama yang menciptakan manusia.
Bab IV Skeptisisme Otentitas Hadits : Kritk Orientaliz Ignaz Goldziher
            Pengertian Hadits adalah identik dengan sunnah, yang secara etimologis berarti jalan  atau tradisi. Akan tetapi diluar Islam (kalangan orientalis) ada yang meragukan hadits sebagai sabda Nabi yang bersifat suci. Diantaranya adalah Ignaz Goldziher, Joseph Schacth dan G.H.A Juynboll. Mereka menganggap bahwa kritik hadits bukan murni dari kalangan Islam, tapi datang dari para orientalis barat yang berusaha mengkritik otoritas (contoh-contoh normatif) Nabi Muhammad SAW.
            Potret Ignaz Goldziher sebagai orientalis keturunan orang Yahudi dan ia dilahirkan di Szekesfehervar, Hongaria. Ia juga dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits. Umumnya hasil kajiannya menyimpulkan bahwa tidak ada hadis-hadis yang shahih dari Rasulullah. Hadis-hadis sebenarnya adalah rekayasa umat Islam dalam kurun kedua dan ketiga hijrah yang mereka sandarkan pada perbuatan Rasulullah. Ignaz menyatakan tentang perbedaan hadis dan sunnah bukan hanya arti maknanya itu sendiri. Melainkan melebar pada pertentangan dalam materi hadis yang berciri lisan bersumber pada Nabi dan sunnah menurut penggunaan yang lazim dikalangan umat Islam kuno.
            Ketika membahas perkembangan hadis pada masa Umayyah dan abbasiyah abad pertama Hijriyah, Ignaz menggambarkan sebagai kondisi masyarakat yang belum memiliki kemampuan cukup untuk memahami dogma-dogma keagamaan,ritus keagamaan, dan pengembangan doktrin agama yang komplek.
Bab V Telaah Sosio-Kultural : Manhaj Ahlul Madinah
            Hukum Islam dianggap sebagai hukum orang-orang Islam, yang sumber utamanya yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Bahwa hukum tersebut adalah syari’at bagi kita dan sebagai hukum yang harus diikuti, misalnya kewajiban puasa pada bulan Ramadhan. Dalam masalah semacam ini jumhur ulama Hanafiyah memandang sebagai syari’at yang harus diikuti, sepanjang tidak ada dalil yang membatalkannya. Atas dasar itu, orang Islam yang membunuh laki-laki ataupun perempuan harus di qishash. Karena al-Qur’an menyebutkannya dengan mutlak “annan nafsa bin nafsi” (jiwa dengan jiwa) dan tidak ada dalil yang membatalkannya. Kecuali ada dalil yang menetapkannya sebagai syari’at kita.
            Manhaj ahlul Madinah lahir dalam kondisi yang memberikan iklim kesejukan didalam memahami hukum Allah. Bicara tentang ahlul Madinah sama dengan ahlul hadits, karena keduanya merupakan satu rangkaian sejarah yang tidak terpisahkan. Dua mazhab besar dalam hukum Islam adalah ahlul hadits dan ahlul ra’yi, yang keduanya melahirkan mazhab Syafi’I, mazhab Maliki, mazhab Hambali, dan mazhab Hanafi. Ahlul hadits yaitu sekelompok orang yang berorientasi pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan, ahlul Ra’yi adalah sekelompok orang yang penggunaan akalnya dalam berijtihad melebihi sikap yang dianut oleh ahlul hadits.
Bab VI Postmodernisme : Realitas Filsafat Kontemporer
Postmodernisme adalah sebuah “intensifikasi dunamisme”, yaitu upaya tak henti-hentinya untuk mencari pembaruan, eksperimentasi, dan revolusi kehidupan. Juga bisa bermakna sebagai pemikiran filosofis yang menyerang modernisme. Akan tetapi, bila posmodernisme diartikan dalam arti luas, yakni sabagai bentuk sikap dasar (etos) yang mencoba kritis terhadap pola pikir dan prinsip-prinsip modernisme.
            Kegagalan modernisme menimbulkan gerakan postmodernisme yang telah merambah ke berbagai bidang kehidupan. Termasuk seni, ilmu, filsafat, dan pendidikan. Pada suatu titik tertentu postmodernisme kemudian tiak hanyamenjelma sebagai landasan bagi gerakan sosial yang diaplikasinya menyentuh berbagai dimensi kehidupan masyarakat.
            Tata fikir posmo adalah cara kontradiksi, kontroversi, paradoks, dan dilematik. Posmo lebih melihat realitas sebagai problematic, sebagai yang selalu perlu di-inquired, dan di-discovered. Pluralisme postmodern ternyata harus harus bertabrakan dengan fakta konkret arogansi budaya budaya Barat lewat kekuatan hegemoninya yang belum jauh beranjak dari pola imperalisme. Postmodern identik dengan dua hal yaitu Pertama, dinilai sebagai keadaan sejarah setelah zaman modern. Kedua, dipandang sebagai gerakan intelektual yang mencoba menggugat, bahkan mendekonstruksi pemikiran sebelumnya. Dengan demikian, postmodernisme sudah menjadi filsafat kontemporer yang sangat trend di dunia Internasional.
Bab VII Potret Metode dan Corak Tafsir Al-Azhar
            Salah satu kitab tafsir yang terbit di Indonesia adalah Tafsir al-Azhar karya hamka. Ia lahir di Ranah Minangkabau pada penghujung abad ke-19 dan paro abad ke-20, yang juga dikenal dengan nama kaum muda. Hamka juga menerbitkan sebuah majalah Al-Iman. Disamping itu ulama kaum muda juga mempelopori pembukaan sekolah gaya baru dan menumbuhkan organisasi baik yang sosial maupun politik.
            Riwayat penulisan tafsir al-Azhar berasal dari kuliah subuh yang diberikan Hamka di Masjid agung al-Azhar, sejak tahun 1959. Di Masjid ini juga dituduh sebagai sarang “Neo Masyumi” dan “Hamkanisme”. Sesaat setelah Hamka memberikan pengajian pada kaum ibu-ibu, ia langsung ditangkap oleh penguasa Orde Lama dan juga dijebloskan ke dalam penjara. Dirumah tahanan inilah Hamka mempunyai kesempatan untuk menulis Tafsir al-Azhar. Metode yang digunakan adalah Metode Tahlili (analisis) yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sedangkan corak yang digunakan yaitu Corak Kombinasi al-Adabi al-Ijma’i-Sufi.  
Bab VIII Diskursus Metode Hermeneutika Al-Qur’an
            Pengertian hermeneutika yaitu sebagai salah satu paradigma keilmuan yang terkait dengan menafsirkan teks-teks kitab suci dan dikenal juga sebagai bentuk metode filsafat kontemporer. Pada dasarnya hermeneutika berhubungan erat dengan bahasa yang tidak hanya berfungsi sebagai perantara, namun juga merupakan proses berfikir, berbicara, menulis, baik diwujudkan dalam bentuk teks atau tanda-tanda lainnya.
Dinamika hermeneutika dalam filsafat dan metode mengalami perkembangan dan perubahan yang muncul dari keragaman pendefisian serta pemahamannya. Pendefisian hermeneutika dibagi menjadi enam menurut Ricard E. Palmer : Pertama, sebagai teori pentafsiran kitab suci. Kedua, sebagai metode filologi. Ketiga, sebagai pemahaman linguistik. Keempat, sebagai fondasi dari geisteswissenschaft. Kelima, sebagai fenomenologidasein. Keenam, sebagai sistem interprestasi.
Hermeneutika al-Qur’an merupakan salah satu metode untuk membedah kandungan makna Allah. Diskursus penafsiran al-Qur’an tradisional lebih banyak mengenal istilah al-tafsir, al-ta’wil,dan al-bayan.
Bab IX Jawa dan Tradisi Islam Penafsiran Historiografi Jawa Mark R Woodward
            Pemikiran Mark R. Woodward tentang Islam dan tradisi jawa, ia juga merupakan etnograf Jawa sekaligus antropolog yang otoritas keilmuannya. Mark mengungkapkan tentang kondisi masyarakat Jawa dan Tradisi Islam dengan menggunakan teks-teks serta tradisi mitologi lisan. Sebagian besar berdasar pada tradisi literer, terutama menyangkut hubungan antara kebatinan dan kesalehan Islam normative. Menurut paham orang Jawa, kekuasaan merupakan realitas adikodrati yang memberikan serta menempatkan dirinya sendiri.
            Kedatangan Islam sebagai suatu sistem nilai yang baru, sebelum itu masyarakat Jawa menganut Hindu dan Budha. Sesuai dengan kondisi lingkungan yang struktur sosialnya ajaran Islam itu lebih cepat tumbuh dan terintegrasi di masyarakat pesisiran. Konflik yang muncul dengan adanya Islam di Jawa, lantas dipandang bukan sebagai konflik antaragama. Melainkan konflik internal Islam, yakni antara Islam normative dengan Islam cultural antar syariah dan sufisme.
            Masalah lain adalah perlunya mencari jalan keluar bagaimana bisa membangun suatu praktik keagamaan yang terbuka, egiliatarian, namun tidak mengorbankan otentisitas suatu agama.  
Bab X Reinterpretasi Profil Peradaban Islam
            Peradaban juga bisa disebut dengan kebudayaan, tetapi menurut istilah keduanya berbeda. Pengertian peradaban adalah bentuk kebudayaan yang paling ideal dan puncak, sehingga menunjukkan keadaban, kemajuan, serta kemakmuran suatu masyarakat. Sedangkan kebudayaan adalah usaha atau ekspresi manusia untuk mengembangkan rasa, cipta, dan karsanya. Jadi makna kebudayaan lebih luas daripada peradaban. Pengertian Islam adalah agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk membawa umatnya pada kedamaian dan keselamatan didunia maupun akhirat. Jadi, istilah peradaban Islam adalah bentuk kebudayaan umat Islam yang lahir dari motivasi keagamaan dan diwujudkan dalam berbagai bentuk.
            Peradaban Islam terbentuk dari empat bagian pokok yaitu sumber ekonomi, tatanan politik, tradisi moral, khazanah ilmu dan seni. Pusat peradaban Islam terdapat diberbagai Negara yaitu pertama, Baghdad (Irak). Kedua, Kairo (Mesir). Ketiga, Ishafan (Persia). Keempat, Istambul (Turki). Adapun faktor-faktor yang menjadikan peradabannya lebih maju, yaitu :
a.       Adanya niat baik dari penguasa untuk mengusulkan Islam
b.      Ekonomi yang maju
c.       Kekuatan pertahanan dan keamanan
d.      Letak geografis
e.       Sumber daya manusia yang handal
Sepintas peradaban Barat memangg lebih maju dari peradaban Islam, antar lain dibuktikan dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan stabilitas kehidupan sosial-politik yang dicapai bangsa Barat. Namun kemajuan sains dan teknologi yang menjadi basis fundamental bangunan peradabannya justru telah menelantarkan dunia diambang pintu krisis global yang semakin mengkhawatirkan. Dengan kekuatan dan potensi umat yang begitu besar, tidak menutup kemungkinan bahwa fajar kebangkitan peradapan Islam akan bersinar di negeri kita ini.
Kelebihan dan Kelamahan Buku ini
Kelebihannya
Buku ini sangat jelas dan runtut pemaparannya dengan menggunakan bahasa ilmiah mudah dipahami. Serta dapat membantu mahasiswa untuk mengenal apa itu Studi Islam Kontemporer.
Kelamahannya
Masih banyak kata-katanya yang kosakatanya kurang. Sarannya lebih teliti lagi dalam menulis kata perkatanya.

Senin, 13 Mei 2013

Makalah Ilmu Pendidikan Islam Tentang Metode Pendidikan Islam



I      PENDAHULUAN
            Semakin berkembangnya dunia dari tahun-ketahun mengakibatkan banyak perubahan dalam diri dunia Islam. Baik dari segi agama, pendidikan, politik dan seterusnya. Terutama dalam bidang pendidikan, akibat adanya sikap serba boleh dan pemenjaan dari orang tua, banyak anak-anak terjerumus pada pergaulan yang mengabaikan syari'at. Banyak kaum wanita melupakan fitrohnya sebagai seorang ibu yang berkewajiban mendidik putra-putrinya.
            Sehingga mengakibatkan dunia anak sia-sia. Pemberian andel yang cukup banyak dalam kesia-siaan trsebut adalah metode pendidikan barat yang tampaknya telah menjadi kiblat pendidikan kita. Sebenarnya Islam mempunyai metode pendidikan yang sempurna kepada umat manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan sedikit membahas tentang metode-metode pendidikan dalam Islam.

I       RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian Metode Pendidikan Islam ?
B.     Apa saja fungsi Metode Pendidikan Islam ?
C.     Apa saja asas-asas Metode Pendidikan Islam ?
D.    Bagaimana cara pendekatan Metode Pendidikan Islam ?
E.     Apa saja prinsi-prinsip Metode Pendidikan Islam ?

I        PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Pendidikan Islam
Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Menurut DR.  Ahmad Husain al-liqaniy, metode adalah : “Langkah–langkah yang diambil guru guna membantu para murid merealisasikan tujuan tertentu”. Dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Thariqoh yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan Pendidikan maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang dilalui untuk memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd al-Aziz mengartikan metode kebiasaan berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru, dan sekolah.[1] Jadi teknik merupakan pengejawantahan dari metode, sedangkan metode merupakan penjabaran asumsi-asumsi dasar dari pendekatan materi al-Islam.
Sementara itu , pendidikan merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk mengembangkan intelektual pribadi anak didik ke arah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai Khalifah Allah SWT., baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama makhluk lainnya. Pendidikan yang dimaksud selalu berdasarkan kepada ajaran Al Qur'an dan Al Hadits. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metodologi pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam[2]
Dalam penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seseorang pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Tujuan diadakan metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk  mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar peserta didik secara mantab. Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pandidikan Islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu, dalam uaraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan peserta didik.
Tugas utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi  melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan ketrampilan olah pikir.[3]
Dalam penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman dan senantiasa siap mengabdi kepada Allah SWT. Di samping itu, pendidik pun perlu memahami metode-metode instruksional yang aktual yang ditujukan dalam Al-Qur’an atau yang didedukasikan dari Al-Qur’an, dan dapat member motivasi dan disiplin atau atau dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan pemberian anugerah (tsawab) dan hukuman (‘iqab).[4]
Apabila metode dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, metode mempunyai fungsi ganda, yaitu yang bersifat polipragmatis dan monopragmatis.[5] Polipragmatis bilamana metode menggunakan kegunaan yang serbaganda (multipurpose), misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi-kondisi tertentu dapat digunakan untuk merusak, dan pada kondisi yang lain bisa digunakan membangun dan memperbaiki. Kegunaannya dapat bergantung pada si pemakai atau pada corak, bentuk, dan kemampuan dari metode sebagai alat. Sebaliknya, monopragmatis bilamana metode mengandung implikasi bersifat konsisten, sistematis, dan kebermaknaan menurut kondis sasarannya, mengingat sasaran metode adalah manusia, sehingga pendidik dituntut untuk berhati-hati dalam penerapannya.
B.     Fungsi Metode Pendidikan Islam
Dalam proses pendidikan Islam pendidik tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberikan kepada peserta didiknya, akan tetapi ia harus menguasai berbagai berbagai metode dan teknik pendidikan guna kelangsungan transformasi dan internalisasi mata pelajaran. Hal ini karena metode dan teknik pendidikan Islam tidak sama dengan metode dan teknik pendidikan lainnya.
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu.[6]
Dari dua pendekatan tersebut dapat dilihat pada intinya metode berfungsi mengantarkan pada suatu tujuan objek sasaran tersebut. Oleh karena itu terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu suatu prinsip agara pengajaran dapat disampaikan dalam suasana yang menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Dalam Al-Qur’an sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini, metode dikenal sebagai sarana yang menyampaikan seseorang kepada tujuan penciptaannya sebagai khalifah  di muka bumi dengan melaksanakan pendekatan di mana manusia ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah yang keduanya dapat digunakan saluran penyampaian materi pelajaran. Karenanya terdapat suatu prinsip umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyaknya metode yang ditawarkan para ahli sebagaimana dijumpai dalam buku-buku kependidikan lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan paling sesuai dengan perkembangan jiwa anak dalam menerima pelajaran.

C.     Asas-asas Metode Pendidikan Islam
Asas-asas pelaksanaan metode pendidikan Islam pada dasarnya dapat diformulasikan sebagai berikut :[7]
                                                      1.       Asas Motivasi
Pendidik harus berusaha membangkitkan minat peserta didiknya sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada bahan pelajaran yang sedang disajikan. Asas ini dapat diupayakan melalui pengajaran dengan cara yang menarik sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, mengadakan selingan yang sehat, menggunakan alat-alat perasa yang sesuai dengan sifat materi, menghindari pengaruh yang menganggu konsentrasi peserta didik, dab juga mengadakan kompetisi sehat dengan memberikan hadiah hukuman yang bijaksana.
                                                      2.       Asas aktivitas
Dalam proses belajar mengajar pendidikan peserta didik harus diberikan kesempatan untuk mengambil bagian yang aktif, baik rohani maupun jasmani, terhadap pengajaran yang akan diberikan, secara individual maupun kolektif. Asas aktivitas dapat diupayakan dengan aktivitas jasmani berupa penelitian, eksperimen, pembuatan konstruksi model, cocok tanam, atau juga dengan aktivitas rohani berupa ketekunan dalam mengikuti pelajaran, mengamati secara cermat, berpikir untuk memecahkan masalah dan tergugah perasaannya, serta berkemauan keras untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Allah SWT, berfirman :
“ Dan bahwasanya seseorang tiada memperoleh selain apa yang telahh diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan, kemudian akan diberi balasan kepadanya degan balasan yang paling sempurna”( QS.An-Najm: 39-41).
                                                      3.       Asas Apersepsi
Apersepsi adalah gejala jiwa yang dialami jika kesan baru masuk kedalam kesadaran seseorang yang berjalin dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki disertai proses pengelolaan, sehungga menjadi kesan yang lebih luas. Asas ini bertujuan menghubungkan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan apa yang telah dikenal oleh peserta didik.
                                                      4.       Asas Peragaan
Dalam asas ini, pendidik memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan-bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan (model-model), sehingga peserta didik dapat mengamati dengan jelas dan pengajaran lebih tertuju untuk mencapai hasil yang diinginkan.
 Asas ini diupayakan melalui penggunaan brbagai macam alat peraga secara wajar, yaitu dengan memeragakan pelajaran dengan percobaan, bulletin board, poster serta menyelanggarakan karyawisata dan mengadakan sandiwara, pantonim, dan drama. Nabi SAW sering memeragakan sewaktu mengajarkan materi pada umat-umatnya, seperti yang dikenal dengan “sunnah fi’liyah”. Dan dalam pepatah Arab dikatakan : “Tindakan itu lebih baik dari ucapan”. Seperti sabda Nabi SAW :
صَÙ„ُّÙˆْا ÙƒَÙ…َا رَØ£َÙŠْتُÙ…ُÙˆْ Ù†ِÙ‰ Ø£ُصَÙ„ِّÙ‰
“Sahalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”(HR. Al-Bukhari)
                                                      5.       Asas Ulangan
Asas yang merupakan usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, serta sikap setelah mengikuti pengajaran sebelumnya. Hal ini karena penguasaan pengetahuan mudah terlupakan oleh peserta didik apabila dialami hanya sekali atau diingat setengah-setengah. Oleh karena itu, pengetahuan yang sering diulang-ulang menjadi pengetahuan yang  berkesan dalam ingatan dan dapat difungsikan dengan baik. Asas ini dapat melalui okasional, yaitu diberikan secara teratur, kontinu, dan  terencana.
Oleh karena itu, Allah SWT sering mengingatkan agar manusia selalu mengulangi ibadah tanpa ada akhirnya sehingga mendatangkan suatu kebenaran. Firman-Nya :
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini” (QS. Al-Hijr : 99)
“Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah : 132).
                                                      6.       Asas Korelasi
Proses belajar mengajar secar menyelurh yang mencakup berbagai dimensi yang kompleks dan saling berhubungan. Oleh sebab itu, dalam setiap pengajaran pendidik harus menghubungkan suatu bahann pelajaran dengan pelajaran yang lain, sehingga membentuk mata rantai yang erat. Asas korelasi akan menimbulkan asosiasi dan arsepsi dalam kesadaran dan sekaligus membangkitkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran.
Firman Allah SWT yang menganjurkan untuk mengorelasikan sesuatu pada sesuatu yang lain, misalnya :
“Maka tidaklah mereka bepergian dimuka bumi lalu melihat bagaiman kesudahan orang-orang sebelum mereka, dan sesungguhnya kamoung akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka tidaklah kamii memikirkannya”. (QS. Yusuf : 109)
                                                      7.       Asas Konsentrasi
Asas yang memfokuskan pada suatu pokok masalh tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksanakan tujuan pendidikan serta memerhatikan peserta didik dalam segala aspeknya. Asas ini dapat diupayakan dengan memberikan masalah yang menarik seperti masalah yang baru muncul.
Firman Allah SWT :
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjankanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. An-Inshirah : 7)
                                                      8.       Asas Individu
Asas yang memerhatikan perbedan-perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan yang meliputi seluruh pribadi peserta didik. Aplikasi asas ini adalah pendidik dapat mempelajari pribadi setiap peserta didik, terutama tentang kepandaian, kelebihan, kekurangan, dan memberi tugas sebatas dengan kemampuannya.
Firman Allah SWT :
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan oleh Allah kepada sebagian kamu yang lebih banyakdari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)
                                                      9.       Asas Sosialisasi
Asas yang memerhatikan penciptaan suasana sosial yang dapat membangkitkan semangat kerja sama antara peserta didik dengan pendidik atau sesame peserta didik dan masyarakat sekitarnya. Dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna, seperti mengadakan karyawisata. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya terhadap manusia lain.”(Al-Hadis)
                                                    10.     Asas Evaluasi
Asas yang memerhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai feedback pendidik dalam memperbaiki cara mengajar. Asas evaluasi tidak hanya diperuntukan bagi peserta didik, akan tetapi juga bagi pendidik, yaitu sejauh mana keberhasilannya dalam menunaikan tugasnya.
                                                    11.     Asas Kebebasan
Asas yang memberikan keluasaan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi atas kebebasan yang mengacau pada hal-hal yang positif. Asas ini menyarankan membuat keputusan-keputusan tentang tindakan seseorang didasarkan pada ukuran kebajikan, dan mampu membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai pribadi, serta adanya pengarahan diri sehingga sistem control diri berkembang.
                                                    12.     Asas Lingkungan
Asas yang menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan. Walaupun peserta didik lahir dengan berbekal pembawaan yang masih bersifat umum. Sehingga pembawaan dan lingkungan bukanlah hal yang tidak bersatu, akan tetapi saling membutuhkan mengingat pembawaan itu.
                                                    13.     Asas Globalisasi
Asas sebagai akibat pengaruh psikologi totalitas, yaitu bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial, dan sebagainya.
                                                    14.     Asas Pusat-pusat Minat
Asas yang memerhatikan kecenderungan jiwa yang tetap kejurusan suatu hal yang berharga bagi seseorang. Sesuatu berharga apabila sesuai dengan kebutuhan. Pelaksanaan asas pusat-pusat minat dalam Islam dengan ruang lingkupnya terdiri atas bahan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia terhadap alam semesta.
                                                    15.     Asas Keteladanan
Pada fase-fase tertentu, memiliki kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang sekitarnya. Misalnya kisah Qabil dalam mengebumikan Habil (adik yang telah dibunuhnya) meniru contoh yang diberikan oleh burung gagak dalam mengubur gagak yang lain, dimana penguburan gagak tersebut merupakan ilham dari Allah SWT.
                                                    16.     Asas Pembiasaan
Asas yang memerhatikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan peserta didik. Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta didik. Upaya pembiasaan sendiri dilakukan mengingat manusia mempunyai sifat lupa dan lemah.
D.    Pendekatan Metode Pendidikan Islam
Perwujudan strategi pendidikan Islam dapat dikonfigurasikan dalam bentuk metode pendidikan yang lebih luasnya mencakup pendekatan (approach)-nya. Pendekatan-pendekatan metode pendidikan Islam ada enam kategori yaitu sebagai berikut :
                                                      1.      Pendekatan Tilawah (Pengajaran)
Pendekatan tilawah meliputi membacakan ayat-ayat Allah yang bertujuan memandang fenomena alam sebagai ayat-Nya, mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan Allah yang memiliki keteraturan yang bersumber dari Rabb al-‘alamin, serta memandang bahwa segala yang ada tidak diciptakan-Nya secara sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakkur (berpikir) dan tadzakur (berdzikir).
                                                      2.      Pendekatan Takziyah (Penyucian)
Menyucikan diri dengan upaya amar ma’ruf dan nahi munkar (tindakan proaktif dan tindakan reaktif). Pendekatan ini bertujuan untuk memlihara dan mengembangkan akhlak yang baik, menolak dan menjauhi akhlak tercela, berperan serta dalam memelihara kesucian lingkungannya.
                                                      3.      Pendekatan Ta’lim Al-Kitab
Mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan menjelaskan hukum halal dan haram. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai keterangan. Pendekatan ini bukan hanya memahami fakta, tetapi juga makna dibalik fata, sehingga dapat menafsirkan informasi secara kreatif dan produktif.
                                                      4.      Pendekatan Ta’lim Al-Hikmah
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan ta’lim al-kitab, hanya saja bobot dan proposi serta frekuensinya diperluas dan diperbesar. Indikator utama pendekatan ini adalah mengadakan perenungan, reinovasi, dan interpretasi terhadap pendekatan ta’lim al-
Kitab.
                                                      5.      Yu’allim-kum ma lam takunu ta’lamun
Suatu pendekatan yang mengajarkan suatu hal yang memang benar-benar asing dan belum diketahui, sehingga pendekatan ini membawa pada suatu alam pemikiran yang benar-benar luar biasa. Pendekatan ini mungkin hanya dapat dinikmati oleh nabi dan rasul saja, seperti mukjizat. 
                                                      6.      Pendekatan Ishlah (Perbaikan)
Pelepasan beban dan belenggu-belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sanggup menganalisis kepincangan-kepincangan yang lemah, memiliki komitmen memihak bagi kaum yang tertindas, dan berupaya menjembatani perbedaan paham.
E.     Prinsip-prinsip Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan Islam harus digunakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode penddikan tersebut sebab dengan prinsip-prinsip ini diharapkan metode pendidikan Islam dapat berfungsi lebih efektif dan efisien dan tidak menyimpang dari tujuan semula dari pendidikan Islam. Oleh karena itu, seorang pendidik perlu memperhatikan prinsip-prinsip metode pendidikan, sehingga mampu menerapkan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut : 
1.        Prinsip Mempermudah
Metode pendidikan yang digunakan oleh pendidik pada dasarnya adalah menggunakan suatu cara yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menghayati dan mengamalkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sekaligus mengidentifikasi dirinya dengan nilai-nilai yang terdapat dalm ilmu pengetahuan dan ketreampilan tersebut sehingga metode yang digunakan haruslah mampu membuat peserta didik untuk merasa mudah menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan itu. Inilah barangkali yang perlu dipahami oleh seorang pendidik. Pendidik tidak harus menggunakan metode yang muluk-muluk sementara materi yang disampaikan tidak mampu diserap oleh peserta didik. Bagaimana peserta didik akan mengaktualisasikan nilai-nilai materi tersebut, sementara materinya itu sendiri belum dapat dipahami dan dikuasai oleh peserta didik.[8] 
2.        Berkesinambungan
Berkesinambungan dijadikan sebagai prinsip metode pendidikan Islam, karena dengan asumsi bahwa pendidikan Islam adalah sebuah proses yang akan berlangsung terus menerus, sehingga dalam menggunakan metode pendidikan seorang pendidik perlu memperhatikan kesinambungan pelaksanaan pemberikan materi. Jangan hanya karena mengejar target kurikulum seorang pendidik menggunakan metode yang efektif yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh yang negatif pada peserta didik karena peserta didik merasa dibohongi oleh pedidik.
3.        Fleksibel dan Dinamis
Metode pendidikan Islam harus digunakan dengan prinsip fleksibel dan dinamis, sebab dengan kelenturan dan kedinamisan metode tersebut, pemakaian metode tidak hanya monoton dan zaklik dengan satu macam metode saja. Seorang pendidik mampu memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ditawarkan oleh para pakar yang dianggapnya cocok dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan, serta suasana pada waktu itu. Dan prinsip kedinamisan ini berkaitan erat dengan prinsip berkesinambungan, karena dalam kesinambungan tersebut metode pendidikan Islam akan selalu dinamis bila disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

I     KESIMPULAN
Dalam penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seseorang pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Pada intinya metode berfungsi mengantarkan pada suatu tujuan objek sasaran tersebut. Oleh karena itu terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu suatu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana yang menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Adapun asas metode pendidikan Islam yaitu sebagai berikut : Asas Motivas, aktivitas, Apersepsi, Peragaan, Ulangan, Korelasi, Konsentrasi, Individu, Sosialisasi, Evaluasi, Kebebasan, Lingkungan, Globalisasi, Pusat-pusat Minat, Keteladanan, Pembiasaan. Pendekatan metode pendidikan Islam terbagi menjadi beberapa bagian yaitu Pendeketan Tilawah (Pengajaran)m, Takziyah (Penyucian), Ta’lim Al-Kitab, Ta’lim Al-Hikmah, Yu’allim-kum ma lam takunu ta’lamun, Ishlah (Perbaikan).
Metode pendidikan Islam sangat memperhatikan prinsip-prinsipnya karena mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode penddikan tersebut. Prinsipny juga berkesinambungan, mempermudah, fleksibel serta dinamis.

        PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari Smakalah ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. Amin.




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam, Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008.
Abd Rahman Shaleh, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, terj.Arifin HM, judul
 asli: Educational Theory a Qur’anic Outlook, Jakarta : Rineka Cipta, 1991.
Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Press,
2002.
Arifin HM, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bina Aksara, 1987.
H. Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Imansjah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Surabaya : Usaha Nasional, 1984.
Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana Prenada Media, 2010.
Muzayyin, Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2010.
Omar Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, ter. Arifin Langgulung
 Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Prof. DR. H. Rama Yulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2002.
Prof. H. M. Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 1990.
Sudiyono, HM, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2009.
Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta : DPPTAI,1981.
Umar, Bukhari, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2010.



[1] Omar Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, ter. Arifin Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 551-552.
[2]  Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta : Ciputat Press, 2002), hlm.41.
[3] Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008), hlm. 167.
[4] Abd Rahman Shaleh ‘Abd Allah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, terj.Arifin HM, judul asli: Educational Theory, a Qur’anic Outlook, (Jakarta:Rineka Cipta, 1991), hlm. 198.   
[5] Arifin HM, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Bina Aksara, 1987), hlm. 97-98.
[6] H. Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005),  hal. 146
[7] Tim Depag RI, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: DPPTAI,1981), hlm. 97-105. Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hlm. 96-110. Imansjah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, (Surabya: Usaha Nasional, 1984), hlm. 16-41.
[8] Prof. DR. H. Rama Yulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta, Kalam Mulia. 2002), hlm. 162. Lihat juga Prof. H. M. Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 199-201.